SPIRITUAL: Indian dan Manusia Spiritual

Gagasan tentang "kekuatan" adalah gagasan krusial bagi bangsa Indian: Alam semesta adalah sebuah tekstur dari kekuatan yang mengemanasi (memancar) dari satu Kekuatan dan Kekuatan yang sama, yang subjacent dan ada dimana-mana, yang impersonal dan sekaligus personal. Bagi bangsa Indian, manusia spiritual disatukan dengan Alam semesta atau Ruh Agung oleh kekuatan kosmik yang merembes, menyucikan, mengubah dan melindunginya. Ia secara serempak adalah seorang paus (atau Kiai dalam tradisi Islam, pen), pahlawan dan penyihir. Di sekitarnya, kekuatan tersebut mampu memanifestasikan dirinya melalui ruh, hewan-hewan dan fenomena Alam.

Di antara  karunia yang riil atau nyata terdapat juga "kekuatan" semisal kekuatan penyembuhan, ramalan (prevision), sugesti, telepati, ramalan (divination),  dan perbuatan dari keajaiban minor. Kekuatan ini mungkin benar-benar hadiah langsung dari Langit, tetapi pada kasus ini, ia berrelasi dengan beberapa derajat kesucian. Jika tidak demikian, kekuatan tersebut hanya kekuatan alamiah, walaupun tetap saja jarang dan luar biasa.

Kini di tengah pendapat otoritas spiritual yang paling beragam, seseorang harus memperlakukan kekuatan tersebut dengan kehati-hatian yang tinggi, sama sekali tidak memberi perhatian kepadanya karena secara partikular iblis mungkin terlibat di dalam hal ini dan memiliki ketertarikan untuk melibatkan dirinya dalam hal ini. Kekuatan serampangan mungkin secara a priori mengindikasikan pemilihan yang berdasarkan sisi Langit, tetapi mereka dapat juga menyebabkan kejatuhan (downfall) bagi mereka yang melekat padanya, hingga kepada kerugian asketisisme yang bersifat membersikan. Asketisisme seperti itu yang dibutuhkan oleh seluruh. Banyak guru spiritual yang zindik dan salah telah mulai menjadi korban penipuan dari beberapa kekuatan yang alam telah berkati kepada mereka.

Karena kekuatan manusia spiritual sebenarnya yang seperti ini tampak terutama sebagai godaan, bukan sebagai berkah. Ia tidak akan berhenti di sana, jika hanya karena alasan sederhana bahwa tidak satupun arif yang akan mengambil kesuciannya sendiri sebagai aksiomatis. Manusia tidak menentukan standar yang Ilahi, kecuali dalam terma abstrak atau melalui karunia tertentu yang sudah diturunkan dari kemuliaan oleh kenabian alamiah; karena tidak seorang manusia pun dapat menjadi hakim dan terdakwa di dalam perkaranya sendiri.

~Frithjof Schuon.  

Sumber: http://www.sophia-perennis.com/Spir_indian.htm
Alih Bahasa dan Interpretasi: Ali Muqi
Tags: , , , ,

Pondok Tradisi

Pondok Tradisi mengumpulkan berbagai tulisan dengan berbagai tema terkait dengan TRADISI dan dunia modern dalam perspektif tradisionalis. Sebagian tulisan tersebut merupakan karya kontemplatif yang sulit dipahami jika dibaca dengan teknik skimming; karena itu, tak perlu terburu-buru. Silakan nikmati bacaan-bacaan tersebut, sedikit demi sedikit, perlahan-lahan dan dengan perenungan mendalam. Sedangkan sebagian lainnya adalah tulisan kami yang masih, dan semoga selalu, dalam tahap belajar; karenanya kritik, saran dan masukkan sangat kami harapkan.